Epilog
*********
Aku pengen curhat nih , hehehehe....mudah-mudahan bisa jadi pelajaran buat sobat semua ;). Dimulai dari berakhirnya ujian akhir semester, aku merasa bebas di pundakku yang beratnya seberat bukit tursina (emang pernah manggul bukit tursina ? hehe..kan cuma ungkapan hiperbola..peace..ah.. ;) ) . Hari-hariku mulai nyantai tanpa kewajiban ngampus sehabis pulang kerja, nyantai euy...
Tiba saat yang menentukan, nilai UAS qu keluar, dengan semangat veteran 45 (hihihi..) aku berangkat ke kampus, sepeda motorku masuk area kampus, lewat pak parkir , ambil kartu parkir dan akhirnya dapat tempat parkir yang nyaman, yaps... Letakkan helm, kunci setang dan aku pun bergegas masuk ruangan jurusan anak informatik. Nah itu dia, bundelan rekap nilai ujian semester. Dug..dug..jantungku mulai berdebar kencang, aku buka lembaran itu satu persatu, beberapa nilai alhamdulillah lumayan bagus, nilai B, cukuplah ... , tapi ups...mataku tertuju pada satu nama, dan kulihat nilai yang tertera, D, innaalillaahh...dan ku buka mta kuliah yang lain , nggak jauh berbeda, C, dan yang lain D lagi, trus..D lagi...gubraks!!!
Ya 4jj1 ada apa gerangan dengan nilai-nilai ini, ku pikir ada yang salah pasti, ada yang nggak adil. Ku coba cek ke detail nilai, dan ternyata dapat biangnya. Ya, ternyata nilai mid semester qu ’null’ , asli bro..sist... . Ku flash back lagi fikiranku ke beberapa bulan yang lalu, hm... ups.. baru ingat, ternyata aku gak ikut mid semester mamang, karena musibah kecelakaan beberapa bulan lalu. Dan aku juga ingat saat itu, aku malas banget ngejar-ngejar dosen ku tercinta buat minta ujian susulan, sampai akhirnya beberapa matkul gak ikut ujian mid susulan. Tidak diragukan matkul itulah yang menyumbangkan nilai D untuk qu.
Sobat, tau nggak, bisa dibayangkan kalau mau ikut ujian susulan harus bayar 50ribu per sks, dan aku ngulang 3 matkul yang masing-masingnya 3 sks. Kalikan sendiri deh, udah berapa yg harus di bayar. Belum lagi aku harus ambil SP (Semester pendek) untuk memperbaiki nilai semester ganjil karena aku juga jarang masuk akibat ’lalai’. Setelah ku hitung-hitung ternyata hanya untuk perbaikan nilai gara-gara ’lalai’ tadi harus ku habiskan 650ribu rupiahs...weeewww. lebih setengah juta euy... (hiks..hiks..)
Padahal uang segitu kalau buat orang-orang yang kekurangan bisa buat makan hampir sebulan. Tapi aku, hanya ku habiskan beberapa menit di bank kampus untuk membayar kelalaian qu. Ya Robb ampuni aku..
**********************************
Lalai, kebiasaan yang selalu bahkan menjadi rutinitas yang mengisi hidup kita. Tak terasa perlahan tapi pasti dia telah menjajah sisi produktivitas seorang manusia, khususnya diriku yang sudah mengikrarkan diatur oleh Islam. Padahal aku tahu bajwa 4jj1 sangat tidak manyukai hamba-hambaNYA yang larut dalam perbuatan yang sia-sia (laghwun).
Sobat qu, epilog di atas tidak jarang menimpa kita, bahkan di kalangan aktivis dakwah sekalipun. Perkara kecil yang sering kita tunda-tunda, menganggap enteng semua hal, dan membiarkan ke sia-siaan adalah sebuah kezholiman yang bisa menjadi biang dari semua masalah. Awalnya mungkin efek yang ditimbulkan tidak begitu besar, tapi ketika hal ini sudah menjadi karakter dalam diri, tinggal tunggu saatnya masalah besar akan menimpamu. Bukankah Al-Quran yang mendidik kita ”...ketika selesai sebuah pekerjaan, lakukan dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang lain (QS.94:7)” ? Hasan Al Banna menasehati dalam taujihnya ”Akhi, sungguh amanahmu jauh labih banyak dari waktu yang tersedia maka segera selesaikan urusanmu dan bantulah saudaramu untuk menyelesaikan urusannnya”. Betapa 4jj1 memberikan garansi kepada ummat ini, bahwa mereka adalah ummat yang terbaik untuk seluruh ummat manusia, tapi jika mental-mental seperti itu yang ada pada diri kita, sepertinya perubahan ummat ini menjadi lebih baik, dimulai dari perubahan masing-masing individunya termasuk dirimu dan aku, juga kita semua hanya sebuah utopia.
Sobat, jangan biarkan engkau menjadi manusia yang lemah dan tanpa manajemen hidup. Jangan kubur dirimu dalam sikap pesimis untuk memulai sebuah perubahan. Kamu tau kan, kakek Einstein (hehehe...sejak kapan jadi eyang kakung qu :D) gimana gigihnya, waktu beliau dihabiskan untuk menemukan elemen-elemen yang menjadi cikal bakal lampu-lampu di dunia ini. Kalau dulu kakek Enstein punya mental seperti aqu (ups..) mungkin dunia ini masih gelap gulita .
Ok sobat, sekarang bangkit dari tempat dudukmu, mulai selesaikan satu persatu pekerjaan yang tertunda tadi. Dan buat target dari setiap pekerjaan, insy4jj1 akan ada perubahan besar pada dirimu.
Sabtu, 28 Juli 2007
Harga sebuah kelalaian
coretan dari
zahra syahidah
pada
00.15
0
komentar
Jumat, 27 Juli 2007
Kepada ukhti yang sedang menunggu di sayup rindu

Assalamu’alaikum wrwb
Kepada ukhtiqu tersayang yang sedang menunggu di sayup rindu
Ukhti mendengar curah hati, dilema yang anti rasakan, kebingungan yang tak berkesudahan sesungguhnya itu semua akan ada akhir, sebagaimana ada pangkal akan ada ujung nya. Fitnah yang selama ini menimpa, sesungguhnya itu bagian dari ujian kesabaran untuk semakin mengokohkan pemahaman kita akan makna ukhuwah sesungguhnya, tingkatan terendah dari ukhuwah adalah berlapang dada dan husnudzhon. Apakah itu sudah menjadi karakter yang senantiasa ada dalam diri ketika fitnah mendera kita. Ya itu semua merupakan proses tarbiyah dari 4jj1.
Demi 4jj1 tidak mudah untuk menjadi kader sejati, ketsiqohan pada murobbi terkadang harus diuji dengan segudang kekecewaan, saat profil ideal seorang murobbi melintas di benak dan harus berhadapan dengan reaalitas murobbi yang ‘menurut kita’ tidak sesuai dengan keinginan kita padahal belum tentu menurut 4jj1, iya kan ti . Ya itulah cara 4jj1 mentarbiyah kita, membuat fikroh kita semakin matang, pembentukan karakter seorang mujahidah sejati yang sabar menjadi pakaiannya dan tsiqoh menjadi makanan pokoknya dalam kerangka taat pada 4jj1 dan RasulNya.
Ada sebuah taujih yang begitu membuat hati ini semakin merasa malu :
“Akhi.....jama'ah ini adalah kumpulan manusia.....ini adalah rumah kita dan rumah antum juga....pastilah menyimpan banyak keunggulan dan juga banyak kelemahan sebagai hasil ijtihad manusia.....maka jika antum melihat kekurangannya.....mari kita bersama untuk memperbaikinya.....setiap masa dan setiap zamannya memiliki karakter yg berbeda....sehingga kehadiran antum di jama'ah ini.....bukan sebagai jaminan antum masuk ke surga.....tetapi sebagai teman kami dalam membangun peradaban Islam yg sedang carut marut ini....kami harap antum mengerti bahwa kita bukanlah pengikut Muhammad yg terbaik.....betapa banyak orang-orang yg baik....tetapi mereka tidak bersama kita.....dan kita yg berada di sini .....janganlah merasa tinggi hati.....karena keberadaan kita dalam jama'ah ini bukanlah sebuah kemuliaan melainkan amanah yg berat....kita bukanlah siapa-siapa......kita hanyalah manusia biasa yg berusaha menggapai kemuliaan Islam dengan melalui jalan tarbiyah ini......dan tarbiyah ini pulalah yg telah menghasilkan pejuang-pejuang tangguh Palestina......bagaimana dgn kita....apa kontribusi kita bagi ummat.....jangankan darah dan jiwa......seujung kukupun masih belum ada....oleh karena itu semoga Allah memudahkan kita dalam menggapai cita dengan segala kemampuan dan daya upaya kita sekalipun hanya sebuah doa bagi dakwah ini......"
Ukhti qu yg ku sayangi karena 4jj1
Diri ini yakin, tak tergambar rindu hati ketika menunggu pangeran, datang menjemput. Dan ada balasan kebaikan di balik penantian itu, insy4jj1. Mengingat keinginan kriteria pasangan impian kita terkadang menjadi ketakutan tersendiri kala biodata yang disodorkan tak sesuai harapan. Itu juga kekhawatiran yang diriku rasakan, tapi hal ini jangan sampai menjajah kekuatan keyakinan kita akan keadilan 4jj1. Sebuah taujih persiapan pernikahan mengatakan : ”ukhti anti jangan mau terima bersih saja dari pasangan anti, mendambakan pasangan yang udah jadi (maxdnya fikrohnya mantab, akhlaqnya kokoh, komitmen dakwah nya ok, cakep, kaya, sholeh de el el.. hehe..itu keterangan versi diriku hehehe :D ), tapi anti berdua harus sama2 belajar untuk memaksimalkan potensi diri, saling mengokohkan komitmen, dan saling mengisi kekurangan masing-masing”. Dari taujih singkat itu aku berfikir, beliau benar, bukankah Suami Ummu Sulaim menjadi seorang mujahid yang tangguh setelah keislamannya, dan itu pasti gak terlepas dari faktor seorang wanita sholehah, wanita sabar yang tak lain adalah istrinya, ummu sulaim RA. Sekali lagi ini masih tulisan, dan komitmen ini belum teruji. Wallaahu’alam
Ukhti tersayang...yang dirahmati 4jj1, insy4jj1
Terkadang profil seorang ikhwah terlalu muluk2 menguasai hati dan fikiran (ini nasihat buat diriku sendiri nih, hihih.. ), padahal kalau di pikir2 kita ini bukanlah siapa2, bahasa kasarnya ”nggak malu, minta yang macem2 sementara aku sendiri satu macem aja lom ada hehehe...”. Tapi diriku yakin 4jj1 tidak akan pernah berbuat dzholim pada hambaNYA yang sholehah, walau sekali lagi keyakinan itu belum teruji .
Sambil menunggu berakhirnya masa penantian ini, lebih baik kita menyibukkan diri untuk terus melejitkan kesholehan, memantabkan fikroh, memaksimalkan kontribusi dakwah dan menabung amal kebaikan. Tentunya seiring semakin terisi kualitas diri, ruhiyah dan fikroh insy4jj1 masa penantian itu akan terasa lebih indah, walau mau gak mau memang harus dibuat indah , dan pada saatnya 4jj1 akan memberikan kado terindah itu untuk kita ;)
Kepada ukhtiqu tersayang yang sedang menunggu di sayup rindu
Ukhti mendengar curah hati, dilema yang anti rasakan, kebingungan yang tak berkesudahan sesungguhnya itu semua akan ada akhir, sebagaimana ada pangkal akan ada ujung nya. Fitnah yang selama ini menimpa, sesungguhnya itu bagian dari ujian kesabaran untuk semakin mengokohkan pemahaman kita akan makna ukhuwah sesungguhnya, tingkatan terendah dari ukhuwah adalah berlapang dada dan husnudzhon. Apakah itu sudah menjadi karakter yang senantiasa ada dalam diri ketika fitnah mendera kita. Ya itu semua merupakan proses tarbiyah dari 4jj1.
Demi 4jj1 tidak mudah untuk menjadi kader sejati, ketsiqohan pada murobbi terkadang harus diuji dengan segudang kekecewaan, saat profil ideal seorang murobbi melintas di benak dan harus berhadapan dengan reaalitas murobbi yang ‘menurut kita’ tidak sesuai dengan keinginan kita padahal belum tentu menurut 4jj1, iya kan ti . Ya itulah cara 4jj1 mentarbiyah kita, membuat fikroh kita semakin matang, pembentukan karakter seorang mujahidah sejati yang sabar menjadi pakaiannya dan tsiqoh menjadi makanan pokoknya dalam kerangka taat pada 4jj1 dan RasulNya.
Ada sebuah taujih yang begitu membuat hati ini semakin merasa malu :
“Akhi.....jama'ah ini adalah kumpulan manusia.....ini adalah rumah kita dan rumah antum juga....pastilah menyimpan banyak keunggulan dan juga banyak kelemahan sebagai hasil ijtihad manusia.....maka jika antum melihat kekurangannya.....mari kita bersama untuk memperbaikinya.....setiap masa dan setiap zamannya memiliki karakter yg berbeda....sehingga kehadiran antum di jama'ah ini.....bukan sebagai jaminan antum masuk ke surga.....tetapi sebagai teman kami dalam membangun peradaban Islam yg sedang carut marut ini....kami harap antum mengerti bahwa kita bukanlah pengikut Muhammad yg terbaik.....betapa banyak orang-orang yg baik....tetapi mereka tidak bersama kita.....dan kita yg berada di sini .....janganlah merasa tinggi hati.....karena keberadaan kita dalam jama'ah ini bukanlah sebuah kemuliaan melainkan amanah yg berat....kita bukanlah siapa-siapa......kita hanyalah manusia biasa yg berusaha menggapai kemuliaan Islam dengan melalui jalan tarbiyah ini......dan tarbiyah ini pulalah yg telah menghasilkan pejuang-pejuang tangguh Palestina......bagaimana dgn kita....apa kontribusi kita bagi ummat.....jangankan darah dan jiwa......seujung kukupun masih belum ada....oleh karena itu semoga Allah memudahkan kita dalam menggapai cita dengan segala kemampuan dan daya upaya kita sekalipun hanya sebuah doa bagi dakwah ini......"
Ukhti qu yg ku sayangi karena 4jj1
Diri ini yakin, tak tergambar rindu hati ketika menunggu pangeran, datang menjemput. Dan ada balasan kebaikan di balik penantian itu, insy4jj1. Mengingat keinginan kriteria pasangan impian kita terkadang menjadi ketakutan tersendiri kala biodata yang disodorkan tak sesuai harapan. Itu juga kekhawatiran yang diriku rasakan, tapi hal ini jangan sampai menjajah kekuatan keyakinan kita akan keadilan 4jj1. Sebuah taujih persiapan pernikahan mengatakan : ”ukhti anti jangan mau terima bersih saja dari pasangan anti, mendambakan pasangan yang udah jadi (maxdnya fikrohnya mantab, akhlaqnya kokoh, komitmen dakwah nya ok, cakep, kaya, sholeh de el el.. hehe..itu keterangan versi diriku hehehe :D ), tapi anti berdua harus sama2 belajar untuk memaksimalkan potensi diri, saling mengokohkan komitmen, dan saling mengisi kekurangan masing-masing”. Dari taujih singkat itu aku berfikir, beliau benar, bukankah Suami Ummu Sulaim menjadi seorang mujahid yang tangguh setelah keislamannya, dan itu pasti gak terlepas dari faktor seorang wanita sholehah, wanita sabar yang tak lain adalah istrinya, ummu sulaim RA. Sekali lagi ini masih tulisan, dan komitmen ini belum teruji. Wallaahu’alam
Ukhti tersayang...yang dirahmati 4jj1, insy4jj1
Terkadang profil seorang ikhwah terlalu muluk2 menguasai hati dan fikiran (ini nasihat buat diriku sendiri nih, hihih.. ), padahal kalau di pikir2 kita ini bukanlah siapa2, bahasa kasarnya ”nggak malu, minta yang macem2 sementara aku sendiri satu macem aja lom ada hehehe...”. Tapi diriku yakin 4jj1 tidak akan pernah berbuat dzholim pada hambaNYA yang sholehah, walau sekali lagi keyakinan itu belum teruji .
Sambil menunggu berakhirnya masa penantian ini, lebih baik kita menyibukkan diri untuk terus melejitkan kesholehan, memantabkan fikroh, memaksimalkan kontribusi dakwah dan menabung amal kebaikan. Tentunya seiring semakin terisi kualitas diri, ruhiyah dan fikroh insy4jj1 masa penantian itu akan terasa lebih indah, walau mau gak mau memang harus dibuat indah , dan pada saatnya 4jj1 akan memberikan kado terindah itu untuk kita ;)
coretan dari
zahra syahidah
pada
21.45
1 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)