Sabtu, 28 Juli 2007

Harga sebuah kelalaian

Epilog
*********
Aku pengen curhat nih , hehehehe....mudah-mudahan bisa jadi pelajaran buat sobat semua ;). Dimulai dari berakhirnya ujian akhir semester, aku merasa bebas di pundakku yang beratnya seberat bukit tursina (emang pernah manggul bukit tursina ? hehe..kan cuma ungkapan hiperbola..peace..ah.. ;) ) . Hari-hariku mulai nyantai tanpa kewajiban ngampus sehabis pulang kerja, nyantai euy...
Tiba saat yang menentukan, nilai UAS qu keluar, dengan semangat veteran 45 (hihihi..) aku berangkat ke kampus, sepeda motorku masuk area kampus, lewat pak parkir , ambil kartu parkir dan akhirnya dapat tempat parkir yang nyaman, yaps... Letakkan helm, kunci setang dan aku pun bergegas masuk ruangan jurusan anak informatik. Nah itu dia, bundelan rekap nilai ujian semester. Dug..dug..jantungku mulai berdebar kencang, aku buka lembaran itu satu persatu, beberapa nilai alhamdulillah lumayan bagus, nilai B, cukuplah ... , tapi ups...mataku tertuju pada satu nama, dan kulihat nilai yang tertera, D, innaalillaahh...dan ku buka mta kuliah yang lain , nggak jauh berbeda, C, dan yang lain D lagi, trus..D lagi...gubraks!!!
Ya 4jj1 ada apa gerangan dengan nilai-nilai ini, ku pikir ada yang salah pasti, ada yang nggak adil. Ku coba cek ke detail nilai, dan ternyata dapat biangnya. Ya, ternyata nilai mid semester qu ’null’ , asli bro..sist...  . Ku flash back lagi fikiranku ke beberapa bulan yang lalu, hm... ups.. baru ingat, ternyata aku gak ikut mid semester mamang, karena musibah kecelakaan beberapa bulan lalu. Dan aku juga ingat saat itu, aku malas banget ngejar-ngejar dosen ku tercinta buat minta ujian susulan, sampai akhirnya beberapa matkul gak ikut ujian mid susulan. Tidak diragukan matkul itulah yang menyumbangkan nilai D untuk qu.
Sobat, tau nggak, bisa dibayangkan kalau mau ikut ujian susulan harus bayar 50ribu per sks, dan aku ngulang 3 matkul yang masing-masingnya 3 sks. Kalikan sendiri deh, udah berapa yg harus di bayar. Belum lagi aku harus ambil SP (Semester pendek) untuk memperbaiki nilai semester ganjil karena aku juga jarang masuk akibat ’lalai’. Setelah ku hitung-hitung ternyata hanya untuk perbaikan nilai gara-gara ’lalai’ tadi harus ku habiskan 650ribu rupiahs...weeewww. lebih setengah juta euy... (hiks..hiks..)
Padahal uang segitu kalau buat orang-orang yang kekurangan bisa buat makan hampir sebulan. Tapi aku, hanya ku habiskan beberapa menit di bank kampus untuk membayar kelalaian qu. Ya Robb ampuni aku..

**********************************
Lalai, kebiasaan yang selalu bahkan menjadi rutinitas yang mengisi hidup kita. Tak terasa perlahan tapi pasti dia telah menjajah sisi produktivitas seorang manusia, khususnya diriku yang sudah mengikrarkan diatur oleh Islam. Padahal aku tahu bajwa 4jj1 sangat tidak manyukai hamba-hambaNYA yang larut dalam perbuatan yang sia-sia (laghwun).
Sobat qu, epilog di atas tidak jarang menimpa kita, bahkan di kalangan aktivis dakwah sekalipun. Perkara kecil yang sering kita tunda-tunda, menganggap enteng semua hal, dan membiarkan ke sia-siaan adalah sebuah kezholiman yang bisa menjadi biang dari semua masalah. Awalnya mungkin efek yang ditimbulkan tidak begitu besar, tapi ketika hal ini sudah menjadi karakter dalam diri, tinggal tunggu saatnya masalah besar akan menimpamu. Bukankah Al-Quran yang mendidik kita ”...ketika selesai sebuah pekerjaan, lakukan dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang lain (QS.94:7)” ? Hasan Al Banna menasehati dalam taujihnya ”Akhi, sungguh amanahmu jauh labih banyak dari waktu yang tersedia maka segera selesaikan urusanmu dan bantulah saudaramu untuk menyelesaikan urusannnya”. Betapa 4jj1 memberikan garansi kepada ummat ini, bahwa mereka adalah ummat yang terbaik untuk seluruh ummat manusia, tapi jika mental-mental seperti itu yang ada pada diri kita, sepertinya perubahan ummat ini menjadi lebih baik, dimulai dari perubahan masing-masing individunya termasuk dirimu dan aku, juga kita semua hanya sebuah utopia.
Sobat, jangan biarkan engkau menjadi manusia yang lemah dan tanpa manajemen hidup. Jangan kubur dirimu dalam sikap pesimis untuk memulai sebuah perubahan. Kamu tau kan, kakek Einstein (hehehe...sejak kapan jadi eyang kakung qu :D) gimana gigihnya, waktu beliau dihabiskan untuk menemukan elemen-elemen yang menjadi cikal bakal lampu-lampu di dunia ini. Kalau dulu kakek Enstein punya mental seperti aqu (ups..) mungkin dunia ini masih gelap gulita .
Ok sobat, sekarang bangkit dari tempat dudukmu, mulai selesaikan satu persatu pekerjaan yang tertunda tadi. Dan buat target dari setiap pekerjaan, insy4jj1 akan ada perubahan besar pada dirimu.


Tidak ada komentar: