Kamis, 12 Juni 2008

Mendung kan berlalu.., songsong cahaya maghfiroh TUHAN mu

Seminggu telah berlalu pasca walimah kami. Pernikahan dan walimah adalah salah satu momen terindah bagi sepasang manusia yang telah dihalalkan olehNYA. Tapi ternyata kesimpulan itu tidak selalu benar karena apa yang kami alami merupakan negasi dari kesimpulan itu. Ada air mata satu malam persis sebelum walimah, ada gundah yang tak terkira akan hari esok , akankah doa-doa kami terkabul ? atau DIA ingin menguji kami lebih dari apa yang sedang kami alami ? wallahu’alam

*******************************

Tibalah hari itu… Mereka tak pernah tau, ada sepasang hati yang sedang terluka dengan luka yang menganga.., ada wajah yang mendung , diliputi gelapnya awan dibalik senyum mereka yang dipaksakan. Ada sepasang jiwa yang sedang meronta, merana karena mereka berdua tak mampu menjaga hati ROBB nya, menjalankan syariahNYA. Tak mampu menjadi qudwah hasanah bagi saudara-saudaranya. Sungguh , kasihan sekali mereka berdua dibalik ketidak berdayaannya. Mereka berdua telah mengusahakan segenap ikhtiar yang mereka punya, tapi terlalu banyak orang-orang yang takut akan syariat, terlalu banyak orang yang lebih memilih untuk menyenangkan di hadapan manusia daripada menyenangkan hati DZAT yang menciptakan mereka.

Mereka yakin, bukan karena doa-doa mereka yang tak terkabulkan, mungkin karena Sang Kekasih Hati ingin menguji mereka, atau sedikit ingin mengingatkan keduanya akan hak-hak Robb nya yang mereka abaikan. Wallahu’alam…

******************************

Sekarang kami ingin menatap ke depan tanpa harus berlama-lama meratapi waktu yang telah berlalu, walau luka di hati kami akan terus menganga…, walau wajah kami telah tercoreng di mata manusia, tapi kami tak berputus asa akan luasnya ampunan dariNYA. Itu sudah cukup mengobati luka di hati kami. Cukuplah Allah bagi kami, DIA lah yang MAHA MENGETAHUI dan MAHA ADIL

Jumat, 12 juni 2008

08.15 , coret-coret sebelum mulai kerja…

senin sore, segala asa ku tumpahkan padaMU

Terkadang Allah ingin menguji hambaNYA karena ingin agar hambaNYA lebih dekat pada NYA, menangis di hadapannya, mengemis belas kasihNYA, merengek-rengek minta pertolongan dariNYA. Tapi terkadang juga hati manusia terlalu kotor untuk melihat keindahan yang agung ini. Apalagi keindahan terindah dari orang yang sedang dimabuk cinta selain selalu ingin berdekatan dengan Sang Kekasih Hati, selalu bermesraan dengan segenap jiwa, tak sedetik pun ingin lepas dari dekapanNYA begitupun bagi orang-orang beriman Kekasih Sejati nya hanyalah Allah.

Saat ini Sang Kekasih Hati ingin menguji komitmen kami, dalam mengemban risalah dakwah. Kesabaran dalam menghadapi setiap objek dakwah. Termasuk keluarga yang notabene merupakan objek dakwah terdekat tapi kerap kali terbaikan

Satu minggu ini kami ingin mengemis belai kasihMU, kami ingin merengek-rengek memohon pertolonganMU, kami ingin memohon kasih sayangMU karena kami sedang Engakau uji. Sungguh kami tak ingin menggores hati mereka, orang-orang yang kami cintai dengan komitmen kami untuk menjalankan syariah Islam. Kami tak ingin ada hati hati hambaMU yang terluka, tapi kami lebih tak ingin jika hatiMU yang terluka Ya Robb

Sungguh kami sangat lemah, kami hanya seongggok daging hidup yang mencoba untuk memberi makna dari setiap desah nafas dengan iman. Kami hanyalah makhluq mu yang sangat hina jika Engkau menghinakan kami. Tapi kami ingin mulia dengan iman. Ya Robb , Engkau berjanji akan mengabulkan doa-doa hambaMU yang meminta pertolonganmu. Dengan sepenuh asa yang tertanam di jiwa , kami mohon tolonglah kami atas perkara ini. Aamiin…Allahumaa Aamiin..

Senin, 02 Juni 2006
luapan hati 6 hari sebelum walimah
15.30, menjelang ashar

Senin, 25 Februari 2008

Ada kejadian yang lucu dan mengharukan hari ini

Alhamdulillah., hari ini aku masih diberi nikmat untuk bisa shoum sunnah, nah kebetulan hari ini, senin ada beberapa karyawan di kantor baru pulang dari perjalanan dinas ke batam. Nah, jadi seperti biasa di ruangan kebanjiran oleh-oleh khas batam. Jadi ada bapak-bapak yang tak melewatkan oleh-oleh itu. Dia mengambil cokelat , dan habis dimakannya satu. Trus sore tadi ternyata masih ada satu cokelat lagi yang tersisa, dan dia mengambil lagi cokelat terakhir itu. Sudah di sobeknya bungkus cokelat, tiba-tiba dia nanya sama aku, : wi hari ini puasa ya ? jam berapa bukanya ? . Aku menjawab seadanya : insy4jj1 saya puasa pak, biasanya hamper jam7 nanti baru buka. Beliau berkata lagi : nah ini cokelatnya buat dewi aja, mau saya makan dan udah saya buka bungkusnya, tapi saya teringat kalau dewi sedang puasa. Jadi buat dewi aja neh, ambil cokelatnya. Agak bengong , dan lucu plus hari (hehehe….) aku menerima pemberian dari bapak itu : wah.., alhamdulilah....makasih banyak Pak, Baik banget bapak

Ya Alloh…, memang indah sekali barokah shoum hari ini. Walau tak seberapa nilai sebuah cokelat, tapi masih sempat-sempatnya beliau mengingat aku yang kebetulan tidak ikut dalam antrian mencicipi oleh-oleh dari batam itu , hehehe…. Padahal cokelat itu tinggal selangkah lagi masuk dalam tenggorokannya dan ternyata di titik itu dia mengingat aku, subhaanalloh….:) . Aku sama sekali gak perduli kalau gak dapat bagian, tapi karena dikasih ya..rezeki ndak boleh ditolak, iya nggak… J

Setelah aku simpan cokelat itu, aku jadi senyum-senyum sendiri. Lucu, sekaligus terharu…(halah.., ya gitulah pokoknya :D )

Ya Alloh.., semoga beliau juga mendapat barokah orang yang berpuasa, karena memberikan ifthor untuk aku. Dan jadikan ia sebaik-baik hambaMU yang sholeh… Aamiin…

Kamis, 14 Februari 2008

Mengelola ketidak setujuan terhadap hasil syuro

"Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?"


Rasanya perbincangan kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya
tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?


Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk. Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda.


Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.


Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap
hasil syuro.


Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu?

Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya?


Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenamya merupakan
sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.


Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan," Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."


Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"?


Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun -karena faktor setan- kita mengatakannya demikian.


Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seadainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.


Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah
atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar. Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.


Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi darnpak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu.


Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya. Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berialunya waktu. Dan,
alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.


Keempat, sesungguhnya dalam kedaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh kepada jamaah.


Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita.
Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.


Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?


sumber: Menikmati Demokrasi, Anis Matta, Lc

sumber myquran.org postingan dari ARS

Sejenak, senyum itu kembali lagi…(end)

Ini hari terakhir aku mengumpulkan uang itu, pagi ini aku cek di email, belum ada yang konfirmasi akan memberi bantuannya. Sobat.., Jujur saat itu aku sedii…ih banget, ntah kenapa..padahal bukan aku yang rugi (aneh yah.., emang .. L ) . Aku tulis email secara japri kebeberapa teman-temanku yang aku berharap mereka membantu. Ada yang aku tanyakan via sms. Alhamdulillah…, ternyata ada yang mau memberi. Hatikupun mulai berbunga-bunga.., hehehe…

Pertama terkumpul 100ribu, hp ku berdering, ada sms masuk, ternyata temanku mau membantu , alhamdulillaah…150ribu sudah. Masih belum cukup, aku coba forward permohonan bantuanku ke salah satu pegawai dikantor. Alhamdulillah , beliau membalas emailku dan menanyakan beberapa hal. Sudah aku jawab pertanyaannya. Kemudian aku dipanggil oleh pegawai itu, dan dia menyerahkan sejumlah uang. “Terimakasih bu”.., aku ucapkan padanya sambil atara percaya nggak percaya, hehehe…. Aku lihat.., Ya Robbi…beliau memberikan 350ribu…. Menjelang zuhur , ada yang memberi lagi, 450ribu dari 2 orang. Trus ebrtambah lagi, sampai berjumlah 900ribu….

Kemudian, ibu yang pegawai tadi kembali mengirim email pada ku. Kata beliau , beliau yang akan menutupi kekurangan biaya operasinya. Subhaanalloh…Ya Robbi…pertolonganMU sangat dekat ku rasakan. Uangnya segera aku masukkan ke amplop dan kusimpan dalam tas.

Sobat… tau nggak, saat itu aku seperti ketiban rezeki nomplok , halah.. Pokoknya gitu deh perasaan ku , saking sueneengnya….padahal uang itu bukan milikku (lucu yah…., ah..biarin ah.. :D). Wanita yang akan menerima bantuan itu bilang akan datang siang, ba’da zhuhur.., aku nggak sabar nunggu, ingin melihat wajahnya tersenyum, menerima pertolongan dari Allah ini, yang aku yakin pasti surprised banget untuk dia.

Waktu zhuhur tiba, aku bersiap-siap ke mesjid dan tiba-tiba hp ku berdering. Telepon dari receptionist, informasi dari receptionist ternyata wanita itu sudah tiba dikantor. Aku langsung menemuinya, dan ya Robb.., wanita itu kurus sekali sekarang. “Beberapa hari ini mbak sakit, dek” . katanya menjelaskan kondisi nya ketika aku bilang “mbak.., koq kurus banget ?” . “Mbak kita sholat dulu yah.., setelah sholat kita ke lantai 4 untuk ambil uangnya”. Ternyata wanit aitu sedang mamnu’ dan dia hanya menunggu di lobi kantor. Setelah sholat, aku bergegas ke lobi kembali. Dan aku mengajaknya ke lobi lantai 4, ruangan kerjaku.

Aku ambil amplop putih yang sudah aku siapkan. “Mbak…., Alloh mengabulkan doa mbak…, ini ada sedikit bantuan dari temen-temen saya dikantor”. “Ini pinjam kan?”, Tanya nya. “Bukan , ini untuk mbak, ndak perlu minjem” . “Loh , koq gitu ?” , dia bertanya lagi. “Ya kalau Alloh udah memudahkan apa yang nggak bisa” , jawabku meyakinkan. Dengan semangat’ 45 aku ceritakan juga tentang keinginan dari ibu pegawai tadi yang ingin membantu menutupi kekurangan biaya operasi usus Bantu adiknya. Dan dengan suka cita, wanita itu sangat gembira mendengarnya. “Ya sudah, sekarang mbak segera urus ke rumah sakit, tentang biaya dan administrasinya, biar proses operasnya bisa segera dilakukan” . “InsyaAllah” , jawabnya….

Entah kenapa hari itu aku rasakan sangat gembira, sudah bisa membuat wanita tadi tersenyum, setidaknya untuk hari itu, menjadi perantara sampainya pertolongan Allah kepada hambaNYA yang membutuhkan. Ya Alloh.., terimakasih atas kesempatan berharga ini. Jadikan aku orang yang bermanfaat buat hamba-hambaMU. Dan berikanlah barokah dan mutiara hikmah dari peristiwa ini untuk kami semua. Aamiin..Allaahummaa Aamiin

“Tidak berkurang sedikitpun harta dari seorang muslin yang di sedeqahkan di jalan Alloh, bahkan harta itu akan semakin bertambah” (hadits Shohih)

Sejenak, senyum itu kembali lagi…(1)

Hari itu seperti biasa waktu zhuhur masuk aku langsung bergegas ke mesjid kantor. Setelah selesai aku mau balik ke ruangan karena belum makan siang. Tapi baru aku keluar dari mesjid ada seorang wanita, umurnya paling 2 atau 3 tahun diatasku . Dia kelihatan seperti mencari seseorang, lalu aku sapa dia , “ada yang bias dibantu mbak ?” . dari pembicaraan singkat kami, ternyata dia sedang mencari pengurus baperohis kantorku. Dia ingin mengajukan permohonan bantuan untuk biaya operasi adiknya yang sedang sakit usus buntu. Lalu aku bawa dia menemui orang yang dimaksud dan aku temeni sebentar.

Dia bercerita singkat tentang kondisi keluarganya, ayahnya sudah tiada, ibunya hanya seorang penjahit, dan dirinya adalah seorang mahasiswa yang sudah tamat D3 tapi dalam ‘status tak jelas’ karena ijazahnya belum diambil, akibat tidak bisa membayar biaya wisuda dan semua hutang-hutang dengan administrasi kampus. Dan adiknya baru duduk di bangku SLTP. Adiknya inilah yang sedang butuh biaya operasi usus buntu.

Singkat cerita satu minggu kemudian wanita itu datang lagi , dan kali ini aku yang ingin ditemuinya. Oh… ternyata ia minta ditemeni lagi untuk ketemu sama pengurus baperohis itu. Hari itu dia menyerahkan surat permohonan bantuan adiknya, karena memang harus secara resmi ditujukan ke baperohis. Dia kembali bercerita singkat tentang hidupnya, yah..aku coba memebsarkan hatinya, sesungguhnya ini ujian buat dia dan keluarganya, dan Alloh gak akan kasih cobaan itu kalau hambaNYA gak sanggup.

3 Minggu kemudian, di siang hari hp ku berdering, ada telepon masuk. Eh..ternyata wanita yang 3 minggu lalu minta ditemeni sama aku untuk ketemu sama pengurus baperohis. Dia bilang kondisi adiknya belum ada berubah, adiknya sampai saat itu belum juga dioperasi tapi udah beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak mau melakukan operasi itu karena tahu mereka menggunakan surat miskin. Ah…sakit sekali aku mendengarnya……Kemudian dia mengatakan bahwa sekarang kondisi financial dia yang hanya seorang pelayan di sebuah restorant sudah semakin kritis, dia sudah kehabisan uang setelah beberapa hari dirumah sakit. Dan dia berniat meminjam uang pada ku sejumlah 300ribu rupiah.

Ya Alloh.., bukan aku gak mau, saat itu keuanganku bener-bener pas-pasan, aku juga belum bayar uang kuliah karena uang ku sedang dipinjam sama seorang teman dengan jumlah yang cukup besar, tapi belum jua dikembalikan. Di saat sempit begini datang orang yang meminta pertolonganku…Duh..RObbii…gimana aku menolongnya ? Dia terus mendesakku untuk meminjam uang itu, katanya kalau dia gajian pasti dikembalikan. Maafkan aku teman bukan aku gak percaya padamu…

Akhirnya aku sampaikan padanya, “mbak bisa ambil uangnya 2 hari lagi kekantor”. Aku juga bingung mau uang darimana yang aku pinjamkan. Ah..biarlah yang penting saat itu dia bisa lega.

Pffuuhh….Aku memutar otak, gimana caranya agar uang minimal dengan sejumlah yang ingin dipinjamnya bisa diberi secara Cuma-Cuma, kalau dia ngutang pasti akan membebankan dirinya untuk mengembalikan.Tapi waktuku Cuma 2 hari untuk mencari uang itu. Bismillah…Akhirnya aku tulis pengumuman di milis khusus teman-teman yang posisi di kantor sama sepertiku, tenaga lepas. Aku ceritakan kondisi wanita tadi, dan harapan besar untuk bantuan mereka meringankan beban wanita itu.


[be continued]....

Rabu, 13 Februari 2008

Renungan Menjelang Pilgubsu

Coret-coret menjelang tidur (renungan menjelang pilgubsu)

sabtu/08 feb 2008 23.00-23.30

Demi Alloh, aku letih , tubuhku lelah dengan segala amanah. Seolah Aku merasa sudah berada pada titik kulminasi segala kelelahan itu. Aku merasa tidak sanggup memikul segala amanah ini. Semua amanah ingin dipriorotaskan, semua amanah minta diperhatikan, semua amanah harus disegerakan. Aku lihat saudaraku yang lain, ada yang masih berada dalam jurang kelalaiannya, ada yang aktivitasnya biasa-biasa saja, tapi ada pula yang kontribusi dakwahnya jauh melampaui kader dakwah pada umumnya. Sampai-sampai waktu tidurnya hanya 2 jam dalam durasi 24 jam perguliran hari. Belum lagi kedua orangtuaku yang merasa dizholimi dengan kesibukan ku itu.

Ah..., itu hanyalah syahwatku yang mulai menggoda. Keletihan yang aku rasakan, kelelahan yang menggelayuti seluruh tubuhku, belum ada seujung kuku penderitaan saudara-saudaraku di palestine, yang saat ini selimut mereka adalah dinginnya malam dibalik reruntuhan rumah mereka yang telah hangus di bombardir oleh misil-misil agresor israel. Nyanyian mereka adalah dentuman roket-roket dan suara tembakan, senandung mereka adalah suara tangis anak-anak, wanita dan para orangtua yang berada dipuncak ketakutannya.

Ya Alloh betapa malunya aku pada mereka itu, apa yang aku rasakan tak pantas aku keluhkan, sementara mereka tak pernah mengeluh dengan penderitaan yang beratus kali lipat dari apa yang aku rasakan. Aku tak pantas merasa lemah padahal aku masih memiliki banyak saudara yang bersamaku memikul amanah ini, sementara mereka ditengah isolasi dari dunia luar , mereka punya saudara tapi tak memberi arti apa-apa meringankan penderitaannya. Tapi dibalik itu semua ternyata mereka tak pernah sedikitpun merasa lemah di balik segala keterbatasan. Wahai ruh...pantaskah lidah itu mengeluh ? tidak kah ada rasa malumu ??

Wahai jiwa.., tidak kah kau ingat akan janji TUHAN mu, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, jannah Firdaus menjadi tempat tinggal mereka, mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya (QS. Al-Kahfi:107-108)

Wahai jiwa.... tidak kah kau tahu, sesungguhnya TUHANmu telah memberi keutamaan dan rahmatNYA untuk orang-orang yang beriman. Tidakkah kau lebih menginginkan ridho TUHAN mu dan janji jannahNYA ?

Wahai diri..., apakah kau ragu bahwa di dalam jannahNYA terdapat kesempurnaan dan kekekalan dengan segala kenikmatan, tanpa kesusahan dan kekurangan, tidak panas , tidak pula dingin, tidak ada lelah, letih. Dan tahukah kau wahai jiwa..,di dalam jannahNYA semua penderitaan hidup, segala keletihan , kelelahan ketakutan, kekecewaan yang kau rasakan di dunia niscaya akan terlupa. Seolah seumur hidupmu di dunia kau hanya melewati segala kegembiraan dan kenikmatan tanpa kesusahan sedikitpun.

Wahai ruhul jadid...., BANGKIT dan BERGERAK lah demi ROBB mu , demi nabimu, demi ’izzah Diinul Islam....

Renungan untk diri yang mulai lemah akan ruh JIHAD.

Dipersembakan khusus untuk buat saudara2ku di hizbul ’adalah war rofahiyah..., bergeraklah wahai jundulloh.., ummat menanti kerja-kerjamu. Bersabarlah dalam panjangnya jalan dakwah ini, di jalan ini jualah yang dipilih oleh nabimu dan para sahabatnya.

By : zahra syahidah

Al Faqir dihadapan Alloh