Jumat, 30 November 2007

Dunia, pergi kau dari hatiku…

Sore ini, di tengah keasyikan ku berkutat dengan script-script PHP, diiringi dengan alunan nasyid di telinga, adzan ashar memanggil ku untuk memenuhi konsumsi ruhiyahku. Ku lihat di lobi lantai 4 ruanganku ku lihat banyak ibu-ibu berkumpul, eh..ternyata mereka sedang mengerumuni bapak-bapak penjual kain. Aku sempatkan mampir , sekedar melihat-lihat. Ya memang bahan kain yang cukup bagus dan sangat manis. Sekilas ku dengar seorang ibu menyebutkan harga salah satu dari kain itu 600ribu. Innaalillaah….
Mungkin aku, seperti orang udik ya prend….”zaman sekarang uang segitu gak ada apa-apanya bro…”, mungkin kamu akan bilang begitu pada ku , hehehe….Tapi suerrr deh kalau aku mah mending uang segitu di tabung, buat simpanan untuk merayakan cinta , ups…ketauan.., hehehe... Sobat ku fid diin, bagi ku yang sudah punya sedikit pegangan tiap bulan sebagai karyawan lepas uang 100 ribu mungkin sangat berharga, tapi tidak sama harganya dengan seorang manajer di perusahaan tempat aku bekerja. Begitu juga, uang 100 ribu itu menjadi sumber pendapatan satu bulan untuk orang yang membantu ibuku di rumah untuk mencuci pakaian. Mendapatkan uang sejumlah itu butuh waktu 1 bulan baru kesampean. Waktu yang tidak sebentar dan penantian yang tidak gampang, menurutku.
Kembali ke kumpulan ibu-ibu tadi, ada diantara mereka yang mengambil 2 stel kain, yang kira-kira harganya kurang lebih 1juta 2ratus ribu rupiah, gubraks !!! Angka yang kecil untuk mereka, pikirku. Sobat, mungkin kita gak bakalan ngabisin uang untuk beli kain, tapi mungkin kita melakukan hal yang sama untuk kepentingan yang lain. Misalnya, ganti hp baru tipe baru dengan teknologi terbaru, atau pengen ikut trend mode terkini dalam gaya hidup dan itu semua membutuhkan dana yang tidak sedikit, iya kan ? Padahal itu hanya sekedar memuaskan gejolak nafsu kita saja. Seperti ungkapan “sekedar memenuhi kepuasan bathin saja”. Padahal ada sebuah ungkapan dari Ibnu Athaillah :
“Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Alah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana”(Ibnu Athaillah) .

Coba kita berfikir dengan jati yang jernih, apakah hidup kita hanya sebatas memenuhi kebutuhan syahwati saja ? Bukankah keinginan-keinginan itu hakikatnya adalah syahwat yang hukumnya boleh asal tidak jatuh pada isrof (berlebih-lebihan). Kalau hidup kita hanya untuk memenuhi kebutuhan syahwat, apa bedanya kita dengan makhluq Allah yang lain yang tidak diberi anugerah akal seperti halnya binatang ? bukan kah Robb mu sering sekali memperingatkan dengan bahasa “’Afalaa Ta’qiluun , apakah kamu tidak berfikir ??” . Atau bahasa kitanya : “mikir loe..mikir..atuh….!!” Sebagaimana seorang ulama Imam Al Ghazali mengatakan :
"Yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian, yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu, yang paling besar di dunia ini adalah nafsu, yang paling berat di dunia ini adalah amanah, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat, yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia."(Imam Al-Ghazali)

Bagi orang orang beriman melihat indahnya dunia hanya sebatas genggaman tangan, dia tak pernah sudi meletakkan dunia di hatinya, sehingga orang beriman tidak akan pernah sulit untuk melepas kenimatan nya dan berbagi dengan orang lain. Sebagaimana sebuah hadits yang mengatakan : “Letakkan dunia itu di tanganmu bukan di hatimu”

Maka sobat, manfaatkanlah nikmat harta, uang dan nikmat yang lain ke jalan yang di ridhoiNYA dan jangan berlebihan dalam menghabiskannya untuk kesenangan syahwat kita saja.

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. (Ibnu Mas'ud)

Wallahu’alam
~ dewi ~

Tuesday, 30 Nop 2007 /18.00 wib
Coret2 sambil nunggu maghrib

Senin, 26 November 2007

Dari do’a bersemilah cinta....

Iseng sambil istirahat kerja, ku buka friendster ku. Ada sebuah testimoni yang isinya sangat singkat ’Saya sayang mbak’. Agak aneh memang koq ujug-ujug ada yang kirim testimoni begitu dari seorang teman yang aku tahu dari avatarnya dia adalah seorang wanita. Aku belum membalas testimoni itu. Selanjutnya, aku lihat sebuah bulletin dari seorang teman yang menuliskan testimoni tadi. Aku tertarik dengan judulnya ’ Ada yg mengetuk2 hati saya malam ini ’Dengan rasa penasaran, aku buka bulletin itu.

’Assalamu'alaikum wrwbYa 4jj1 berikan rahmat dan ridhoMU
selalu pada nya ukhti qu yang sedangmilad.
Limpahkan hidupnya dengan barokahdari MU selalu.
Dan berikanlah petunjukMU di setiap langkah dan desahan nafasnya.
Cintailah ia dan jadikan makhluq-m akhluqmu juga menyintainya YaaRobb.
Mudahkan ia dalam segala urusannya.
Aamiin
from
ukhtika fillah’

Ku baca satu persatu kalimat di dalamnya. Sudah hampir setengah dari isi buletin itu aku baca, dan sepertinya aku pernah membaca sebelumnya tulisan itu. Tapi aku nggak tau dimana.
Aku pun melanjutkan ke kalimat berikutnya. Dan ternyata si penulis menceritakan tentang perasaan hatinya yang sedang jatuh cinta, setelah membaca tulisan yang baru aku baca tadi. Sebuah untaian do’a di hari miladnya. Dia mengatakan :

’Sungguh.., saya jatuh cinta pada orang yang mengirimkan pesan ini pada sayah.. Saya bahkan tidak tahu siapa dia. Saya tidak pernah melihat wajahnya sekalipun, saya benar2 tidak mengenalnya..’ . Kemudian dia menuliskan ’Tapi begitu saya baca pesan ini di inbox saya, saya langsung tahu dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yg telah berhasil membuat saya jatuh hati. Dan dengan bangga saya post tulisan dia di buletin ini. Saya pengen bilang pada dunia, "Hey! Jangan pernah takut kehabisan cinta!"Luv u so much, sister! :)’

Ya..ya...aku ingat sekarang, tulisan itu adalah ucapan milad yang aku ucapkan pada temen ku yang menulis testimoni ’Saya sayang mbak’. Aku baca lagi bulletin tadi. Ku lihat betapa perasaan bahagia yang membuncah dalam tulisan itu, perasaan memiliki cinta dan perasaan tersanjung karena mendapat untaian do’a. Aku lihat betapa bangganya dia menyantumkan do’a singkat itu dan tentang orang yang menuliskan doa penuh cinta itu. Dalam hati aku jadi malu sendiri, padahal awalnya tidak terlalu istimewa bagiku untuk menuliskan do’a milad itu kepada teman-teman di friendster ku. Tapi kali ini sepertinya aku menemukan nafas ukhuwah yang berbuahkan cinta di balik do’a milad yang biasa-biasa aja menurutku tapi memiliki makna yang begitu mendalam bagi yang menerimanya. Subhanaalloh....terimakasih atas cinta dari orang-orang yang menyintai-MU ya Robb....

*************************
Kita sudah hafal tentang tingkatan ukhuwah, dan berkali-kali kita menyerukan ukhuwah Islamiyah kepada sodara-sodara kita. Tapi ternyata kita sering mengabaikan hal-hal kecil untk menyuburkan ukhuwah itu. Dan hal-hal kecil itu pula yang menjadikan ukhuwah semakin terasa bumbunya. Sobat, bukankah wajahmu yang tersenyum manis kepada saudaramu merupakan sedeqahmu padanya. Beliau SAW yang menjadi Qudwah kita juga sangat memperhatikan suburnya ukhuwah bersama para sahabatnya. Sampai-sampai setiap sahabatnya merasa dirinyalah yang paling dekat dan paling disayang oleh Beliau SAW.
Sobat, mari kita belajar untuk merangkai tangkai demi tangkai bunga ukhuwah yang akan menjadi rangkaian bunga yang indah dan menenangkan setiap yang melihatnya. Tebarkan sebanyak-banyaknya cinta kepada sodara-sodara yang kita temui. Lapangkan dada ketika cinta yang ditebar tak berbalas dengan cinta yang sama indahnya. Karena Alloh lah kita menebar cinta itu, kepadaNYA lah kita berharap terbalasnya cinta dengan anugerah cinta terindah dariNYA.

Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia menyintai saudaranya sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri (HR.Muslim)

Wallahu’alam

Medan bekerja, tak semudah medan bicara…

Berapa banyak orang yang hanya mampu mengkritisi tapi tidak mampu memberikan kontribusi. Berapa banyak yang hanya mampu bergerak dalam tataran konsep tapi mandul ketika diminta terjun ke medan laga. Itulah yang kebanyakan terjadi pada bangsa ini. Ketika orang lain menginjakkan kakinya di medan bekerja begitu banyak yang siap menjadi pengamat tapi enggan ikut berjuang bersamanya. Tapi ketika sedikit kesalahan yang dilakukan karena keniscayaan, sebuah ketidak sempurnaan dari sorang manusia dan system yang dibuat oleh manusia maka dia begitu gigihnya menyalahkan bak pahlawan kesiangan.

Begitu dalam dunia dakwah. Dalam jamaah dakwah ini, tanpa sadar aku terseret perlahan ke dalam golongan orang-orang tersebut. Ketika saudara-saudaraku sudah bergerilya dari desa ke desa, dari ta’lim ke ta’lim . Pun ketika ada pesan amsuk di hp ku. ’Assalamu’alaikum.Ukhti tolong gantikan ane siang ini ngisi keputrian di kampus ya. ’afwan hari ane ndak bisa keluar kantor. Tolong ya..’. Seketika muncul seribu satu alasan ku untuk menolak permintaan ukhti tersebut. Terbayang di kepalaku perkerjaan kantor, tugas dakwah yang ingin aku kerjakan di waktu istirahat siang ini, menghadiri pengajian jumat siang, de el el. Sekan-akan alasan-alasan itu menjadi pisau yang sangat tajam untuk mematahkan permintaan ukhti ku tadi. Astaghfirulloh....maafkan aku ukhti..

Memang , jujur saat itu kaki ku seolah menjadi sangat berat melangkah untuk memenuhi permintaan itu. Jalanan yang biasanya pada jumat siang sangat padat, udara yang panas, tempat yang aku tidak begitu tahu dimana, seakan menjadikan pelengkap syahwat malas ku, ketika itu.

Seketika terlintas kembali di alam bawah sadarku buku yang baru aku baca malamnya ’Episode Cinta sang Murobbi’. Kisah tentang seorang mujahid dakwah yang sekarang telah di panggil oleh Robb-nya. Rumah yang reot, tapi dia mampu ’me-nyulap’ rawa-rawa dekat rumahnya menjadi Islamic Center yang penuh dengan kegiatan dakwah dan kajian-kajian ke-Islaman. Bagaimana dia mengorbankan waktu istirahat malamnya, ketika orang sudah lelap dengan mimpi indah dia masih bercengkrama membicarakan agenda dakwah dengan para sahabatnya sampai dini hari. Tapi aku.....???
Aku semakin tertohok ketika teringat sebuah seruan dari NYA ’Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah di jalan 4jj1....’ Tersentak aku seolah berada di jauh di inti bumi, aku merasa malu. Kenapa aku yang sudah menginfaq kan hidupku di jalanNYA bermental sangat memalukan seperti ini ?? Aku ingat salah satu taujih Almarhum syeikh tersebut di buku itu : ’Antum akan di uji pada titik terlemah antum’. Ya Alloh betapa lemahnya aku..Aku hampir gagal dalam ujian yang belum ada apa-apanya dibandingkan para pendahuku, aku nyaris kalah dengan syahwat ku. Tanpa pikir panjang, membiarkan jiwaku yang lemah semakin layu, aku mulai menyusun materi yang akan aku bawakan siang itu. Bismillah....

Sobat ku di jalan dakwah...
Sudah kah kita menyambut setiap seruan dakwah, seruan jihad dari NYA ? Ataukah kita lebih sering kalah dengan syahwat ketika seruan itu datang dengan berjuta alasan yang di ada-adakan ?? Na’udzubillah...

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At-Taubah:41)