Hari ini aku mulai keluar rumah, kebetulan hari ini ada seminar dan aku salah satu yang memiliki tanggung jawab untuk susksesnya seminar itu. Waktuku gak banyak lagi agar tiba tepat waktu di tempat, mau gak mau aku harus menaikkan speedometer sepeda motorku sampai 50km/jam. Ups..ternyata aku kejebak harus menunggu lewatnya kereta api. Ternyata jalan kereta api agak lambat jadi semua kendaraan harus menunggu lebih lama. Tiba-tiba ada sepeda motor yang melewati saja palang penghalang itu. Satu, dua, tiga dan seterusnya….eh..eh..aku berfikir, apa mereka-mereka ini gak tau rambu-rambu lalu lintas apa? Atau mereka gak berfikir perbuatannya tidak hanya mencelakakan dirinya sendiri tapi juga orang lain.
Dan aku mencoba mencari jawaban terbaik dari itu semua, dan kutemukan mungkin orang-orang yang menerobos palang kereta api itu adalah orang yang sangat menghargai waktu. Sehingga tidak ada namanya waktu yang boleh kosong walaupun sekedar menunggu beberap
a menit sampai lewat kereta api.Great…
Walau jawaban ini terdengar aneh..mungkin ini jawaban terbaik untukku, jadi kepalaku gak perlu pusing-pusing mikirin kegilaan mereka menerobos palang rel saat kereta api tinggal beberapa meter saja dari palang itu.
Setelah kereta api lewat perlahan aku menaikkan speedometer motor ku. Terus aku berjalan, sambil sibuk dengan fikiranku tadi, sibuk dengan kegilaan sebagian orang dari bangsa ini, keanehan mental bangsa ku. Di depanku sudah lampu merah. Nah disini aku kembali melihat keanehan itu. Manusia-manusia aneh tadi kembali ku temukan. Dengan enaknya mereka menerobos lampu merah, padahal mungkin dalam detik yang sama kendaraan lain dalam arah yang berlawanan akan lewat juga. Sobat, mungkin ini hal yang bisa kita lihat. Atau mungkin pernah atau bahkan sering kita lakukan. MasyaAlloh...
Ya tanpa kita sadar, sudah sekian banyak pengendara lain yang kita rampas hak mereka untuk lewat. Tanpa sadar juga, kita telah memberikan peluang sekian manusia untuk berada dalam ancaman kecelakaan karena perbuatan kita, peluang untuk berakhir hidup mereka melalui kita. Yah orang-orang yang menerobos itu seolah-olah telah menjelma menjadi orang yang paling menghargai waktu di dunia ini. Jadi ia tidak bisa menyisihkan waktu barang sebentar untuk menunggu giliran lampu hijau.
Tapi sayang
beribu sayang. Dibalik asumsi ku tadi, asumsi bahwa aku sedang melihat manusia yang peling menghargai waktu di dunia ini, sehingga dengan mudahnya merampas hak orang lain, mengancam keselamatan jiwa orang lain, aku melihat realitas ratusan atau ribuan anak muda, orang tua, yang ku lewati setiap harinya di pinggir jalan yang kerjanya hanya nongkrong-nongkrong tanpa ada sesuatu yang produktif yang mampu mereka hasilkan. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku dua hal yang sangat kontradiksi itu. Dua sisi yang saling bertolak belakang...
Ternyata sebagian dari bangsa ini hanya mampu menuntut HAK tanpa perduli dengan KEWAJIBAN. Aku hanya berharap, aku, dirimu dan kita semua tidak menambah daftar panjang orang aneh yang ada dalam kisahku tadi. Karena setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawabannya.
Barang siapa yang mengerjakan kebajikn seberat biji dzarroh akan ada balasannya. Dan barang sapa yang menegrjakan kejahatan seberat dzarroh akan ada balasannya. (QS. Al Zalzalah (9) : 7-8)
Dan aku mencoba mencari jawaban terbaik dari itu semua, dan kutemukan mungkin orang-orang yang menerobos palang kereta api itu adalah orang yang sangat menghargai waktu. Sehingga tidak ada namanya waktu yang boleh kosong walaupun sekedar menunggu beberap
a menit sampai lewat kereta api.Great…Walau jawaban ini terdengar aneh..mungkin ini jawaban terbaik untukku, jadi kepalaku gak perlu pusing-pusing mikirin kegilaan mereka menerobos palang rel saat kereta api tinggal beberapa meter saja dari palang itu.
Setelah kereta api lewat perlahan aku menaikkan speedometer motor ku. Terus aku berjalan, sambil sibuk dengan fikiranku tadi, sibuk dengan kegilaan sebagian orang dari bangsa ini, keanehan mental bangsa ku. Di depanku sudah lampu merah. Nah disini aku kembali melihat keanehan itu. Manusia-manusia aneh tadi kembali ku temukan. Dengan enaknya mereka menerobos lampu merah, padahal mungkin dalam detik yang sama kendaraan lain dalam arah yang berlawanan akan lewat juga. Sobat, mungkin ini hal yang bisa kita lihat. Atau mungkin pernah atau bahkan sering kita lakukan. MasyaAlloh...
Ya tanpa kita sadar, sudah sekian banyak pengendara lain yang kita rampas hak mereka untuk lewat. Tanpa sadar juga, kita telah memberikan peluang sekian manusia untuk berada dalam ancaman kecelakaan karena perbuatan kita, peluang untuk berakhir hidup mereka melalui kita. Yah orang-orang yang menerobos itu seolah-olah telah menjelma menjadi orang yang paling menghargai waktu di dunia ini. Jadi ia tidak bisa menyisihkan waktu barang sebentar untuk menunggu giliran lampu hijau.
Tapi sayang
beribu sayang. Dibalik asumsi ku tadi, asumsi bahwa aku sedang melihat manusia yang peling menghargai waktu di dunia ini, sehingga dengan mudahnya merampas hak orang lain, mengancam keselamatan jiwa orang lain, aku melihat realitas ratusan atau ribuan anak muda, orang tua, yang ku lewati setiap harinya di pinggir jalan yang kerjanya hanya nongkrong-nongkrong tanpa ada sesuatu yang produktif yang mampu mereka hasilkan. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku dua hal yang sangat kontradiksi itu. Dua sisi yang saling bertolak belakang...Ternyata sebagian dari bangsa ini hanya mampu menuntut HAK tanpa perduli dengan KEWAJIBAN. Aku hanya berharap, aku, dirimu dan kita semua tidak menambah daftar panjang orang aneh yang ada dalam kisahku tadi. Karena setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawabannya.
Barang siapa yang mengerjakan kebajikn seberat biji dzarroh akan ada balasannya. Dan barang sapa yang menegrjakan kejahatan seberat dzarroh akan ada balasannya. (QS. Al Zalzalah (9) : 7-8)