Epilog
********************
Semalam petang, menjelang maghrib aku bersama seorang ukhti, berniat pergi ke sebuah pernikahan kakak dari seorang akhwat. Sampai tibanya disana, terdengar suara musik , dangdut ‘kucing garong’ yang sangat keras. Mulanya saya berfikir ada pesta juga deket rumah akhwat tadi. Tapi setelah kenderaan ku semakin dekat melaju menuju rumahnya, ternyata suara itu semakin dekat juga. Dan setibanya di rumah beliau (akhwat tadi), aku langsung lemas. Innaalillaah, Ya Robb. Di depan para undangan seorang wanita sedang bergoyang , ‘erotis’ dengan diiringi nyanyian ‘kucing garong’.
Aku berusaha mencari-cari alasan, kenapa kondisi seperti itu terjadi di rumahnya, di keluarga kandungnya. Aku tidak ingin, menjadi hakim dari apa yang ku lihat terhadap ukhti qu itu. Oh…pasti beliau udah mencurahkan semua tenaganya untuk menghalangi adanya musik jahiliyah itu dirumahnya, oh..mungkin dia sudah berusaha maksimal tapi tidak mendapat dukungan dari keluarga, oh..mungkin..dan mungkin…
***********************

Saudaraku fillah yang sentiasa tetap dalam istiqomah dan sabar dalam panjangnya jalan dakwah ini..
Kejadian di atas, sangat menyakitkan untuk diriku, dan pasti juga sangat menyakitkan untuk saudaraku tadi. Tapi ada mutiara indah di balik kejadian itu yang bisa kita kumpulkan untuk dijadikan gelang atau kalung yang akan semakin menghias setiap episode kehidupan kita. Ukhti, mungkin engkau adalah aktivis tulen dalam Lembaga Dakwah di kampusmu. Mungkin engkau seorang, orator ketika meneriakkan perang terhadap kemaksiatan, atau mungkin engkau seorang yang memiliki belasan binaan di luar rumahmu. Tapi pernahkah sejenak dirimu melihat, apakah adik, kakak, sepupu, orang tua atau orang-orang di rumahmu juga merasakan sentuhan dakwah mu itu ?
Atau kau hanya menjadikan rumahmu hanya sebatas tempat ‘numpang tidur dan numpang makan’ ?. Pergi pagi dan pulang malam, pindah dari satu dauroh ke dauroh lain, dari satu halaqoh ke halaqah lain, seminar dan segudang aktivitas yang menyita seluruh durasi waktu 24jam yang engkau miliki setiap harinya. Saudaraku, gimana kabar saudara-saudara kandungmu ? orangtuamu ? Sudahkah kau penuhi hak mereka untuk mendapatkan dakwah fardhiyah darimu?
Saudaraku di jalan 4jj1, jalan dakwah ini amat panjang, membutuhkan kekuatan orang-orang yang ikut bergabung dalam kafilahnya. Dan kekuatan terbesar adalah dukungan dari keluarga. Jika engkau memiliki adik, apakah dia sudah engkau persiapkan untuk menjadi jundi kecil, yang nantinya akan melanjutkan estafet dalam regenerasi dakwah ini? Orang tuamu, adakah mereka menjadi orang pertama yang akan mengumpulkan kekuatanmu diasaat engkau berada dalam klimaks keletihan dalam menyelesaikan seluruh amanah dakwah ini? Atau bahkan sebaliknya, mereka menjadi orang yang berada dalam ring terdepan untuk menghalangi seruanmu ?
Ampuni kami Ya Robb, atas kelalaian kami memenuhi hak dakwah keluarga-keluarga kami.
********************
Semalam petang, menjelang maghrib aku bersama seorang ukhti, berniat pergi ke sebuah pernikahan kakak dari seorang akhwat. Sampai tibanya disana, terdengar suara musik , dangdut ‘kucing garong’ yang sangat keras. Mulanya saya berfikir ada pesta juga deket rumah akhwat tadi. Tapi setelah kenderaan ku semakin dekat melaju menuju rumahnya, ternyata suara itu semakin dekat juga. Dan setibanya di rumah beliau (akhwat tadi), aku langsung lemas. Innaalillaah, Ya Robb. Di depan para undangan seorang wanita sedang bergoyang , ‘erotis’ dengan diiringi nyanyian ‘kucing garong’.
Aku berusaha mencari-cari alasan, kenapa kondisi seperti itu terjadi di rumahnya, di keluarga kandungnya. Aku tidak ingin, menjadi hakim dari apa yang ku lihat terhadap ukhti qu itu. Oh…pasti beliau udah mencurahkan semua tenaganya untuk menghalangi adanya musik jahiliyah itu dirumahnya, oh..mungkin dia sudah berusaha maksimal tapi tidak mendapat dukungan dari keluarga, oh..mungkin..dan mungkin…
***********************

Saudaraku fillah yang sentiasa tetap dalam istiqomah dan sabar dalam panjangnya jalan dakwah ini..
Kejadian di atas, sangat menyakitkan untuk diriku, dan pasti juga sangat menyakitkan untuk saudaraku tadi. Tapi ada mutiara indah di balik kejadian itu yang bisa kita kumpulkan untuk dijadikan gelang atau kalung yang akan semakin menghias setiap episode kehidupan kita. Ukhti, mungkin engkau adalah aktivis tulen dalam Lembaga Dakwah di kampusmu. Mungkin engkau seorang, orator ketika meneriakkan perang terhadap kemaksiatan, atau mungkin engkau seorang yang memiliki belasan binaan di luar rumahmu. Tapi pernahkah sejenak dirimu melihat, apakah adik, kakak, sepupu, orang tua atau orang-orang di rumahmu juga merasakan sentuhan dakwah mu itu ?
Atau kau hanya menjadikan rumahmu hanya sebatas tempat ‘numpang tidur dan numpang makan’ ?. Pergi pagi dan pulang malam, pindah dari satu dauroh ke dauroh lain, dari satu halaqoh ke halaqah lain, seminar dan segudang aktivitas yang menyita seluruh durasi waktu 24jam yang engkau miliki setiap harinya. Saudaraku, gimana kabar saudara-saudara kandungmu ? orangtuamu ? Sudahkah kau penuhi hak mereka untuk mendapatkan dakwah fardhiyah darimu?
Saudaraku di jalan 4jj1, jalan dakwah ini amat panjang, membutuhkan kekuatan orang-orang yang ikut bergabung dalam kafilahnya. Dan kekuatan terbesar adalah dukungan dari keluarga. Jika engkau memiliki adik, apakah dia sudah engkau persiapkan untuk menjadi jundi kecil, yang nantinya akan melanjutkan estafet dalam regenerasi dakwah ini? Orang tuamu, adakah mereka menjadi orang pertama yang akan mengumpulkan kekuatanmu diasaat engkau berada dalam klimaks keletihan dalam menyelesaikan seluruh amanah dakwah ini? Atau bahkan sebaliknya, mereka menjadi orang yang berada dalam ring terdepan untuk menghalangi seruanmu ?
Ampuni kami Ya Robb, atas kelalaian kami memenuhi hak dakwah keluarga-keluarga kami.
"Buat para jundi-jundi dakwah, perjalanan ini masih sangat panjang, walau bukan kita yang akan menyaksikan kemenangan ini, insy4jj1 generasi kitalah yang akan menyaksikan tegaknya khilafah fil ardh"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar