Prolog
*********************************
Hari itu, bukan lah hari yg sistimewa untuknya. Tapi hari itu, adalah hari yang cukup sial ’menurut sebahagian orang yang kurang mampu bersyukur’. Yah, sudah beberapa hari ini laki-laki itu pulang ke kampung halamannya untuk sebuah urusan atau sekedar melepas lelah. Di kos nya, sepeda motornya di tinggal, dan dititipkan pada adiknya yang juga satu kos dengannya. Sepulangnya dari kampung dia mintadijemput oleh adiknya itu. Tapi setelah beberapa jam menunggu, orang yang ditunggu tidak kunjung muncul batang hidungnya. Hatinya mulai resah, saar itulah HP nya berdering, lalu ada sebuah suara yang mengatakan , bahwa adiknya tidak bisa menjemput di terminal , karena sepeda motornya yang dipinjm teman satu kosnya di tengah jalan mengalami kecelakaan, sepeda motor di sita oleh polisi, tidak hanya itu kondisi sepeda motor juga babak belur. Tidak ada yang mampu diucapkan laki-laki itu. Dia langsung pulang ke kosnya dengan naik angkot, setelah itu berangkat ke rumah sakit. Kondisi temen yang membawa sepeda motornya cukup parah, tidak berbeda dengan kondisi sepeda motor miliknya yang dipinjamkan ke teman yg sekarang sedang dihadapannya ini. Keesokan harinya dari rumah sakit dia langsung berangkat ke kantor, dengan penampilan kusut. Kemudian dia menceritakan pengalaman yang baru di alaminya. Seorang ibu, ngomentari . ”Kalau udah begitu kesel yah jadinya, dia minjem sepeda motor kita, taunya kecelakaan. Udah sepeda motor kita habis, urusan ke polisi lagi”. Dengan tenang laki-laki itu menjawab ”Yah, dia juga nggak mau kecelakaan, bu. Mau gimana lagi, ya biarlah...”
****************************

Satu pelajaran berharga aku peroleh hari ini, tentang sebuah kata yg tidak mudah untuk diaplikasikan walau teorinya sudah tamat di bahas. IKHLAS . Sobat kejadian diatas mungkin dianggap sesuatu yang sial yang menimpa hidup kita. Sepeda motor yang masih kredit, sepeda motor satu-satunya yang membuat dirinya bisa mobile kemanapun, ternyata harus babak belur karena di pinjam. Belum lagi kerepotannya harus berurusan dengan polisi dan pihak yang terlibat dalam kecelakaan itu. Tetapi kita lihat sikap laki-laki tersebut menerima taqdirnya. Hanya satu kata yang dapat melukiskan ketenangan yang muncul dari pribadi itu, pribadi yang IKHLAS.
Sobat, ketika ego ingin berontak menuntut hak, ketika ke –AKU an merajai hati, ketika emosi menguasai logika berfikir, tapi ketika itu juga nurani mengetuk bilik yang masih belum terjamah oleh syahwati. Keikhlasan yang merupakan implementai dari dalamnya iman, berfungsi sebagai bendungan yang menghalangi derasnya gejolak hati yang lebih didominasi oleh syahwat. Sobat, terkadang emosi hati sering sekali meledak, dan dimuntahkan melalui lisan kita yang sangat tajam bak pisau, melukai sekian banyak hati. Ter
kadang sering sekali kita belum mampu menjadi orang yang menerima apa adanya segala taqdir yang telah terjadi. Alhasil , dengan mudah jari ini menunjuk ke siapapun untuk menjadi objek penyebab taqdir itu. Padahal ketika 4jj1 menaqdirkan akan sesuatu, walaupun seluruh penghuni langit dan bumi menghalanginya, sesuatu itu akan tetap terjadi. Jadi apa alasan kita untuk menunjuk orang lain menjadi penyebab terjadinya taqdir itu ?
Bagi seorang mukmin, tidak ada kata lain yang lebih indah untuk diucapkan dan menjadi solusi yang akan menjadi embun penyejuk hati yang terbakar emosi, IKHLAS menerima taqdir yang telah di tetapkanNYA. Ikhlas dapat meredam hati yang sibuk dalam kalkulasi dunia, ikhlas dapat meredam sangkaan-sangkaan yang tidak baik terhadap semua makhluqNYA dan terhadap KHALIQnya. Mari kita tetap melakukan riyadhoh hati dengan IKHLASH. Semoga 4jj1 menjadikan hati kita semakin lembut seperti hati Abu Bakar ...[ Aamiin Allaahummaa Aamiin ] :)
Ikhlas dan tauhid adalah pohon yang ditanam di taman hati, Amal perbuatan adalah cabang-cabangnya, sedangkan buah-buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan abadi di alam akhirat. (Ibnul-Qayyim)
*********************************
Hari itu, bukan lah hari yg sistimewa untuknya. Tapi hari itu, adalah hari yang cukup sial ’menurut sebahagian orang yang kurang mampu bersyukur’. Yah, sudah beberapa hari ini laki-laki itu pulang ke kampung halamannya untuk sebuah urusan atau sekedar melepas lelah. Di kos nya, sepeda motornya di tinggal, dan dititipkan pada adiknya yang juga satu kos dengannya. Sepulangnya dari kampung dia mintadijemput oleh adiknya itu. Tapi setelah beberapa jam menunggu, orang yang ditunggu tidak kunjung muncul batang hidungnya. Hatinya mulai resah, saar itulah HP nya berdering, lalu ada sebuah suara yang mengatakan , bahwa adiknya tidak bisa menjemput di terminal , karena sepeda motornya yang dipinjm teman satu kosnya di tengah jalan mengalami kecelakaan, sepeda motor di sita oleh polisi, tidak hanya itu kondisi sepeda motor juga babak belur. Tidak ada yang mampu diucapkan laki-laki itu. Dia langsung pulang ke kosnya dengan naik angkot, setelah itu berangkat ke rumah sakit. Kondisi temen yang membawa sepeda motornya cukup parah, tidak berbeda dengan kondisi sepeda motor miliknya yang dipinjamkan ke teman yg sekarang sedang dihadapannya ini. Keesokan harinya dari rumah sakit dia langsung berangkat ke kantor, dengan penampilan kusut. Kemudian dia menceritakan pengalaman yang baru di alaminya. Seorang ibu, ngomentari . ”Kalau udah begitu kesel yah jadinya, dia minjem sepeda motor kita, taunya kecelakaan. Udah sepeda motor kita habis, urusan ke polisi lagi”. Dengan tenang laki-laki itu menjawab ”Yah, dia juga nggak mau kecelakaan, bu. Mau gimana lagi, ya biarlah...”
****************************

Satu pelajaran berharga aku peroleh hari ini, tentang sebuah kata yg tidak mudah untuk diaplikasikan walau teorinya sudah tamat di bahas. IKHLAS . Sobat kejadian diatas mungkin dianggap sesuatu yang sial yang menimpa hidup kita. Sepeda motor yang masih kredit, sepeda motor satu-satunya yang membuat dirinya bisa mobile kemanapun, ternyata harus babak belur karena di pinjam. Belum lagi kerepotannya harus berurusan dengan polisi dan pihak yang terlibat dalam kecelakaan itu. Tetapi kita lihat sikap laki-laki tersebut menerima taqdirnya. Hanya satu kata yang dapat melukiskan ketenangan yang muncul dari pribadi itu, pribadi yang IKHLAS.
Sobat, ketika ego ingin berontak menuntut hak, ketika ke –AKU an merajai hati, ketika emosi menguasai logika berfikir, tapi ketika itu juga nurani mengetuk bilik yang masih belum terjamah oleh syahwati. Keikhlasan yang merupakan implementai dari dalamnya iman, berfungsi sebagai bendungan yang menghalangi derasnya gejolak hati yang lebih didominasi oleh syahwat. Sobat, terkadang emosi hati sering sekali meledak, dan dimuntahkan melalui lisan kita yang sangat tajam bak pisau, melukai sekian banyak hati. Ter
kadang sering sekali kita belum mampu menjadi orang yang menerima apa adanya segala taqdir yang telah terjadi. Alhasil , dengan mudah jari ini menunjuk ke siapapun untuk menjadi objek penyebab taqdir itu. Padahal ketika 4jj1 menaqdirkan akan sesuatu, walaupun seluruh penghuni langit dan bumi menghalanginya, sesuatu itu akan tetap terjadi. Jadi apa alasan kita untuk menunjuk orang lain menjadi penyebab terjadinya taqdir itu ?Bagi seorang mukmin, tidak ada kata lain yang lebih indah untuk diucapkan dan menjadi solusi yang akan menjadi embun penyejuk hati yang terbakar emosi, IKHLAS menerima taqdir yang telah di tetapkanNYA. Ikhlas dapat meredam hati yang sibuk dalam kalkulasi dunia, ikhlas dapat meredam sangkaan-sangkaan yang tidak baik terhadap semua makhluqNYA dan terhadap KHALIQnya. Mari kita tetap melakukan riyadhoh hati dengan IKHLASH. Semoga 4jj1 menjadikan hati kita semakin lembut seperti hati Abu Bakar ...[ Aamiin Allaahummaa Aamiin ] :)
Ikhlas dan tauhid adalah pohon yang ditanam di taman hati, Amal perbuatan adalah cabang-cabangnya, sedangkan buah-buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan abadi di alam akhirat. (Ibnul-Qayyim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar