Kamis, 14 Februari 2008

Sejenak, senyum itu kembali lagi…(1)

Hari itu seperti biasa waktu zhuhur masuk aku langsung bergegas ke mesjid kantor. Setelah selesai aku mau balik ke ruangan karena belum makan siang. Tapi baru aku keluar dari mesjid ada seorang wanita, umurnya paling 2 atau 3 tahun diatasku . Dia kelihatan seperti mencari seseorang, lalu aku sapa dia , “ada yang bias dibantu mbak ?” . dari pembicaraan singkat kami, ternyata dia sedang mencari pengurus baperohis kantorku. Dia ingin mengajukan permohonan bantuan untuk biaya operasi adiknya yang sedang sakit usus buntu. Lalu aku bawa dia menemui orang yang dimaksud dan aku temeni sebentar.

Dia bercerita singkat tentang kondisi keluarganya, ayahnya sudah tiada, ibunya hanya seorang penjahit, dan dirinya adalah seorang mahasiswa yang sudah tamat D3 tapi dalam ‘status tak jelas’ karena ijazahnya belum diambil, akibat tidak bisa membayar biaya wisuda dan semua hutang-hutang dengan administrasi kampus. Dan adiknya baru duduk di bangku SLTP. Adiknya inilah yang sedang butuh biaya operasi usus buntu.

Singkat cerita satu minggu kemudian wanita itu datang lagi , dan kali ini aku yang ingin ditemuinya. Oh… ternyata ia minta ditemeni lagi untuk ketemu sama pengurus baperohis itu. Hari itu dia menyerahkan surat permohonan bantuan adiknya, karena memang harus secara resmi ditujukan ke baperohis. Dia kembali bercerita singkat tentang hidupnya, yah..aku coba memebsarkan hatinya, sesungguhnya ini ujian buat dia dan keluarganya, dan Alloh gak akan kasih cobaan itu kalau hambaNYA gak sanggup.

3 Minggu kemudian, di siang hari hp ku berdering, ada telepon masuk. Eh..ternyata wanita yang 3 minggu lalu minta ditemeni sama aku untuk ketemu sama pengurus baperohis. Dia bilang kondisi adiknya belum ada berubah, adiknya sampai saat itu belum juga dioperasi tapi udah beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak mau melakukan operasi itu karena tahu mereka menggunakan surat miskin. Ah…sakit sekali aku mendengarnya……Kemudian dia mengatakan bahwa sekarang kondisi financial dia yang hanya seorang pelayan di sebuah restorant sudah semakin kritis, dia sudah kehabisan uang setelah beberapa hari dirumah sakit. Dan dia berniat meminjam uang pada ku sejumlah 300ribu rupiah.

Ya Alloh.., bukan aku gak mau, saat itu keuanganku bener-bener pas-pasan, aku juga belum bayar uang kuliah karena uang ku sedang dipinjam sama seorang teman dengan jumlah yang cukup besar, tapi belum jua dikembalikan. Di saat sempit begini datang orang yang meminta pertolonganku…Duh..RObbii…gimana aku menolongnya ? Dia terus mendesakku untuk meminjam uang itu, katanya kalau dia gajian pasti dikembalikan. Maafkan aku teman bukan aku gak percaya padamu…

Akhirnya aku sampaikan padanya, “mbak bisa ambil uangnya 2 hari lagi kekantor”. Aku juga bingung mau uang darimana yang aku pinjamkan. Ah..biarlah yang penting saat itu dia bisa lega.

Pffuuhh….Aku memutar otak, gimana caranya agar uang minimal dengan sejumlah yang ingin dipinjamnya bisa diberi secara Cuma-Cuma, kalau dia ngutang pasti akan membebankan dirinya untuk mengembalikan.Tapi waktuku Cuma 2 hari untuk mencari uang itu. Bismillah…Akhirnya aku tulis pengumuman di milis khusus teman-teman yang posisi di kantor sama sepertiku, tenaga lepas. Aku ceritakan kondisi wanita tadi, dan harapan besar untuk bantuan mereka meringankan beban wanita itu.


[be continued]....

Tidak ada komentar: